Sejauh mana kita mendisplinkan anak-anak?

Aku jumpa artikel yg bagus utk para parents baca…mungkin kita tidak pernah memukul anak kita, atau mungkin pernah kerana sudah hilang sabar dgn perangai anak2 kita yg menguji kesabaran kita (tahap maximum) yg bolehbuat kita menjerit sampai lari semua burung2 gagak/tikus diluar rumah. Dengan membaca artikel ini, aku harap kita as parents lebih  lebih sabar dalam mendidik/displinkan anak2. sila baca kerana di artikel ini ada tulis tentang efek memukul anak/ mengunakan “Commandor style” dalam mendidik/displinkan anak.

_______________________________________________________

EFEK MEMUKUL ANAK

(Artikel di ambil dari link Facebook Note: Ibu Muda Indonesia)

(source: http://74.125.153.132/search?q=cache:zntUWfeYu8kJ:th-th.facebook.com/topic.php%3Fuid%3D91072386254%26topic%3D11705+efek+memukul+anak&cd=2&hl=en&ct=clnk&gl=my&client=firefox-a)

“Bangun tidur aku langsung meracik bahan-bahan untuk memasak terus anak-anak kutinggalkan nonton kartun. selesai memasak sambil menunggu masakan matang aku kembali menemui anak-anak. Oh my God,mereka mengacak-acak isi kulkas kecil yang ada di kamar,yoghurt jatuh di lantai,baju-baju yang sudah di setrika si bibi juga di acak-acak. Bagaimana tidak marah. Akhirnya karena lelah, emosiku juga keluar jadi aku marahi anak-anak sambil sedikit berteriak. Kemudian aku kembali ke dapur, dan setelah selesai masak aku kembali menemui anak-anak yang sedang nangis karena anak yang besar memukul adiknya. Akhirnya aku pukul karena biar kapok jangan lagi memukul adiknya. Tapi namanya anak-anak, aku pukul juga belum mengerti, masih memukul bahkan menggigit adiknya. Suamiku bilang jangan pukul anak,mamaku juga begitu. tapi mertuaku yang sudah tua mengajariku jangan memanjakan anak. Kalau anak-anak nakal dia bilang karena aku tidak pernah memukulnya.”
Itulah sedikit cerita.
Memang kita sebagai orang tua bertanggung jawab untuk mendisiplinkan dan menghukum anak demi kebaikan si anak sekarang dan kalau suidah besar kelak.

Dari yang kubaca katanya si anak bakal memberikan reaksi aktif atau pasif terhadap hukuman fisik yg orang tua berikan. Rekasi aktif dapat dilihat saat hukuman berlangsung. Umpamanya, berteriak, mengentak-entakkan kaki, dll. Sedangkan reaksi pasif pada umumnya tidak ditunjukkan di depan orang tuanya. Contohnya, menyalurkan kemarahan kepada adiknya atau pembantu rumah tangganya.

Hukuman fisik, menurut Neil A.S. Summerheil asal AS dalam bukunya A Radical Approach to Children Rearing, merupakan suatu usaha untuk memaksakan kehendak. Walaupun tujuan utamanya untuk menegakkan disiplin anak, tindakan ini dapat berakibat sebaliknya. Anak menjadi frustrasi. Selanjutnya, anak hanya merespons pada tujuan hukuman itu sendiri. Banyak anak merasa bahwa menerima hukuman badan tidak terhindarkan, sehingga mereka menjadi resisten (kebal) terhadap hukuman tersebut. Hukuman badan tidak membuat mereka melaksanakan suatu aktivitas dengan baik. Sebaliknya, anak akan cenderung membiarkan dirinya dihukum daripada melakukannya.

James Dobson asal Illinois, AS, dalam bukunya Dare to Dicipline menekankan, hukuman badan tidak akan mencegah atau menghentikan anak melakukan tindakan yang salah. Ganjaran fisik ini justru bisa berakibat buruk. Bahkan, dapat mendorong anak untuk meneruskan dan meningkatkan tingkah lakunya yang salah.

Riset ahli lain, Leonard D. Eron, menunjukkan hukuman fisik dikhawatirkan malah mendorong anak untuk bertingkah laku agresif. Celakanya, orang tua sering kali malah bereaksi terhadap agresivitas ini dengan menggunakan cara yang salah, misalnya dengan meningkatkan intensitas serta frekuensi hukuman badan. Tidak heran kalau anak kemudian malah meniru tingkah laku agresif orang tua atau orang dewasa yang menghukumnya. Di sini secara tidak sadar orang tua telah mengajarkan anak untuk berperilaku agresif.

Gunakan hukuman variatif

Hukuman badan secara fisiologis dan psikologis memiliki dampak jangka pendek dan panjang. Efek fisik jangka pendek misalnya luka memar, bengkak, dll. Sedangkan dampak fisik jangka panjang misalnya cacat seumur hidup. Efek psikologis jangka pendek, misalnya merasa marah, sakit hati, jengkel untuk sementara waktu. Dampak ini tentu lebih ringan dibandingkan dengan efek psikologis jangka panjang, seperti merasa dendam yang mungkin sampai bertahun-tahun. Bahkan, Philip Greven dalam bukunya Spare the Child: The Religious Roots of Punishment and the Psychological Impact of Physical Abuse menyatakan, efek psikis jangka panjang itu termasuk disasosiasi bermacam bentuk seperti represi atau amnesia, pikiran terbelah serta kekurangpekaan perasaan.

Hukuman yang muncul karena orang tua khawatir kehilangan kewibawaan, bukan upaya untuk menunjukkan kasih sayang atau melatih anak agar disiplin pada aturan, akan menimbulkan reaksi negatif. Menurut Neil, anak akan merasa hukuman sebagai lambang kebencian orang tua kepada mereka. “Tidak heran kalau kemudian anak bereaksi negatif,” tegasnya.

Arnold Buss seorang psikolog dalam bukunya Man in Perspective mengingatkan, bila hukuman diberikan terlalu sering dan anak merasakan hal ini tidak dapat dihindarkan, anak akan membentuk rasa ketidakberdayaan (sense of helplesness). Anak tidak belajar apa pun dari hukuman tersebut, tetapi cenderung menerimanya tanpa merasa bersalah. Konsekuensinya, menurut ahli dari Kanada ini, hukuman tidak mempunyai arti apa-apa bagi mereka. Rasa tidak berdaya ini dapat dikurangi dengan menggunakan hukuman yang variatif, tidak monoton.

Kondisi bertambah parah apabila anak mempunyai pandangan negatif terhadap dirinya sendiri sehingga anak tidak dapat memisahkan antara perilaku dengan kepribadian mereka yang sebenarnya. Mereka lalu menganggap dirinya memang bukan anak yang baik, tidak lagi memandang bahwa kelakuan mereka yang salah. Akibatnya, anak akan merasa rendah diri. Bila rasa tidak berdaya terhadap rasa rendah diri ini terbentuk, maka anak akan terus memandang diri mereka sebagai anak yang tidak baik. Akibatnya, mereka akan terus berperilaku buruk. Mereka pikir memang begitulah orang lain memandang dirinya. Dalam kasus ini kemungkinan untuk memperbaiki keadaan itu sangat sulit.

Sebaiknya Tanpa hukuman badan

Menurut Debby Campbell, seorang pendidik asal Ottawa, Kanada, dalam bukunya About Dicipline and Punishment, efektivitas hukuman badan lebih tergantung pada metodenya ketimbang frekuensinya. Setiap kali menerima hukuman, memang anak akan jera untuk melakukan kesalahan yang sama. Namun setelah menerima hukuman, pada umumnya anak akan berusaha menarik perhatian orang tuanya untuk memperlihatkan penyesalan mereka atas perbuatan buruknya. Setelah situasi emosional berakhir, sering kali anak ingin berada dalam pelukan orang tuanya. “Saat ini orang tua harus menyambut dengan pelukan hangat, penuh kasih sayang. Di sini pembicaraan dari hati ke hati antara anak dan orang tua perlu dilakukan,” tambah Dobson. Di sinilah hukuman berdampak positif karena dapat meningkatkan perasaan cinta kasih antara anak dan orang tua.

Sebenarnya ada berbagai cara untuk mendidik anak agar mereka menaati suatu aturan atau melaksanakan suatu aktivitas. Tidak perlu harus dengan hukuman badan. Sekali lagi, hukuman badan harus dipandang sebagai jalan terakhir.

Jalan terbaik antara lain dengan memberikan teladan yang baik. Dengan demikian si anak akan mempelajari tentang apa yang boleh dan tidak boleh mereka perbuat. Metode non-hukuman badan bentuk lain adalah metode time out dengan mengisolasi si anak dalam ruangan kurang nyaman baginya selama beberapa menit. Atau, anak diminta mengerjakan sesuatu yang kurang menyenangkan baginya, misalnya membersihkan kamar mandi, menyapu, dilarang menonton TV seharian, dll. Namun hendaknya anak diberi peringatan sebelum hukuman dilaksanakan.

Jika hukuman badan tidak dapat dihindarkan, A.M. Cooke dalam bukunya Family Medical Guide memberikan beberapa saran hukuman badan seperti apa yang patut dilakukan:

  • Memukul anak dengan menggunakan telapak tangan terbuka pada pantat, kaki, atau tangan.
  • Hukuman diberikan cukup satu kali sehari.
  • Jangan memberikan hukuman badan pada anak yang berusia kurang dari 1 tahun.
  • Sedapat mungkin hindari hukuman pada saat orang tua sedang pada puncak emosi.

________________________________________

Bacaan lanjut:

1) Shouting VS. Spanking: http://thelastpsychiatrist.com/2009/10/shouting_vs_spanking.html

2) For Some Parents, shouting Is the New Spanking: http://www.nytimes.com/2009/10/22/fashion/22yell.html