perempuan kepanasan

Ahh realiti, selalu merimaskan
Lihat aja, dari hal paling mudah
Buang sampah sudah payah
Sampai ke pentadbiran negara makin jadi sampah
Monyet2 di parlimen
Banyak cakap, tak da adap
Nyanyian sumbang  yg dah basi busuk masih aja didendangkan
Masih aja dilayan para obsesi, ekstrimis janji palsu
Para pejuang mengatas-namakan kononnya untuk ‘kemanusiaan’ dan ‘tuhan’
Yang Kalian kitar semula hanyalah  hanyir politik hipokrit kehidupan

Aku perempuan, banyak hal yg aku pikirkan
Aku perempuan dilahirkan dengan akal sendiri dan menjadi tanggungjawabku utk pikir guna akal dan hati
Aku perempuan adalah hak aku utk aku menyoal tentang kekonyolan hari-hari
Aku perempuan layak mendapat dan memberi kesamarataan buat lelaki dan perempuan

Itu semua mimpi ideal perempuan disianghari, bagaimana pula dengan realiti
Memberes rumah dan kerja lagi
Esok seperti hari2 biasa,
Menyiapkan kopi, mencium kamu dan cari rezeki.

Lelah aku mengeluh
Setiap hari, sebetulnya adakah yg peduli
Mengeluh ttg harga barang naik lagi
Jem jalan, train lambat,  bus lambat,
dimarah bos setiap pagi.

Aku pernah ingat
Merah, semua punch cardku
Kalaupun aku keluh, siapa yang mau tau
Aku pernah ingat, harus keluar sebelum terbit matahari, pulang dah malam lagi
kasihan anak2 tidak dapat kasih ibu
Kasian suami tak dpt perhatian bini
Apa nak buat, kerja macam anjing , makan siang cuma sekali.

Mengeluh, maki hamun sistem negara perkara biasa.
Mana tak nya, politikus hanya berkata2, duit buat rakyat hilang entah kemana.
Ada kwn kerja ku  bilang ” belilah kereta, memudahkan hidup”
Bagaimana kereta boleh memudahkan hidup keluargaku?
Jika ssetiap bulan aku dan anak2 akan kelaparan
Bayar hutang kiri kanan, tengah bulan gigit jari dan tangan.

Pernahkan mereka yg kita pilih ini peduli
nasib kita?
Atau cuma sandiwara politik dan propaganda basi 5 tahun sekali?
Dan lucunya kalian massih membeli janji?

Setelah dipilih lima tahun sekali,
Kita ditinggal diberakkan janji
Kita hidup melarat, jangan risau… 5 tahun pasti mereka menyapa lagi.

Ini yang aku panggil badut demokrasi
Membincang hal negara seperti minum kopi
Membahagi2 kueh demokrasi  buat sesama sendiri,
Yang pintar nya hanya berjanji

Setiap malam, tidur anak-anak aku terfikir, Untuk apa memilih, hanya sekadar mencium janji palsu para politikus yg haus?
Kau kata kami setara, masih saja kami dilihat taraf kedua, yang bikin kopi dan fotokopi dalam ruang kerja
Bila kami menuntut hak kami, kau kata hak sudah diberi di negara demokrasi ni?
DiMana? Mana haknya, kalau dirogol, masih saja kalian menyalahkan kami berpakaian tanpa menyalahkan budaya sakit yg kalian besarkan
Ingat kami adalah perempuan yg melahirkan kamu
Kami juga yg mendidik kamu dan memberi kamu makan
Kami juga yang membantu memberi wang buat keluarga
Ingat tanpa perempuan lelaki itu tidak akan dilahirkan
Hormat sama rata yang kami perlukan… Adakah itu terlalu mahal harganya?

Aku tidak mengakui lelaki sebagai ketua dr kecil lagi, tetapi lebih sebagai teman yang mau  dan tidak malu berbincang dengan aku

ahh..sudah lah, Jika dlm barisan menuntut perubahan, perempuan masih tidak jalan sejajar dgn lelaki,
Hanya sebagai mannequin lobby dan aksi buat syarat gender equality
Persetan dgn kalian, itu bukan perubahan utk kami!

 

(ili-bangsar, mac 2013)