TEST PRINT: Menanam semula aspirasi seni cetak konvensional.

Screen Shot 2015-02-12 at 2.24.31 AM

Berkongsi penulisan saya  yang ditulis utk katalog pameran Cetak Kolektif. Pameran Test Print oleh Cetak Kolektif telah dipamerkan di HOM Art Trans pada Dec 2014.

Info lanjut boleh layari di HOM ART TRANS

______________________________

TEST PRINT: Menanam semula aspirasi seni cetak konvensional.| TEST PRINT: Reviving the Aspiration for Conventional Printmaking

Oleh /by: Ili Farhana

Diterjemah dari Bahasa  oleh Teratak Nuromar | Translated from the Malay by Teratak Nuromar

 

Alam mengajar manusia untuk memahami dalam kehidupan ini bukanlah mengenai aksi individu, tetapi saling bergantungan antara satu dengan yang lain; walaupun saling bergantungan…masing-masing mempunyai peranan yang  dimainkan untuk kesejahteraan bersama.

Mother Nature has her way of enlightening us mere mortals on the fact that life is not about individual self but about supporting and helping each other. However, despite our interdependence, each one of us has a special role to play for the well-being of us all.

Apa yang menyebabkan berlakunya perkembangan seni kolektif adalah kerana wujudnya hubungan organik solidariti dimana, dalam konteks seni, setiap individu yang bergiat dalam seni secara langsung atau tidak langsung itu mempunyai peranan dan tanggungjawab untuk saling membangunkan antara satu dengan yang lain. Ini adalah kerana seni mempunyai peranan dalam masyarakat keseluruhan untuk berfungsi malah untuk terus hidup.

In general, an art collective emerges due to the existence of a relationship of organic solidarity between people involved, directly or indirectly, in the arena, whereby each one of them plays a certain role and shoulders certain responsibilities that can contribute to the development of themselves as well as of their art community. This is so because art has a crucial task to carry out in the society for it to function and thrive efficiently.    

Kita harus mengakui bahawa seni cetak di Malaysia kini semakin dilupakan, walaupun seni cetak itu sendiri adalah satu antara bentuk seni yang terawal dan yang paling popular dalam sejarah seni di dunia ini. Karya seni cetak semakin jarang kita lihat di pameran seni terutamanya di Malaysia. Dalam penulisan artikel tentang perkembangan Seni Cetak di Malaysia oleh Jane Khoo dan Prof. Madya Rahman Mohammad yang ditulis untuk buku 1st Macau Printmaking Triennial;

We cannot help but admit that the popularity of printmaking in Malaysia continues to wane despite the fact that it was one of the earliest art forms and used to be the most popular one in the history of art. Print works in today’s art exhibitions are becoming fewer and far between, particularly in Malaysia. Jane Khoo and Assoc. Prof. Rahman Mohammad have highlighted this matter in their article in the catalogue for the 1st Macau Printmaking Triennial;

“The intricacies of printmaking might be only understood by artists and among art circles, not by the general public at large.  But this does not (and should not) hinder the public from appreciating the prints as an art form in the era of postmodernism where plurality in art is accepted.”

Melihat dalam konteks negara ini, walaupun seni cetak masih diajar di kebanyakan institusi seni, hanya beberapa seniman yang konsisten dan masih mengamalkan teknik cetak sebagai medium berkarya berbanding dengan catan, lukisan dan arca.

In Malaysia, even though printmaking is still very much taught in most art education institutions, the number of artists who consistently adopt printmaking as their main medium of artistic expression is relatively low compared to that of those who take up painting, drawing and sculpture.

Semangat kerjasama | Spirit of Cooperation

Cetak Kolektif bertunas daripada benih idea kerjasama untuk mengangkat medium cetak konvensional sebagai prinsip gerak kerja mereka. Pengasas Cetak kolektif yang terdiri daripada enam seniman muda iaitu Samsudin Wahab, Faizul Suhif, Sabihis Pandi, Zul Husni Mohd. Ridhuan, Arsong Ong dan Hazul Bakar.

The art collective named Cetak Kolektif is the result of a collaborative decision made by several young artists to take up conventional printmaking as the primary means of their artistic practice. It consists of Samsudin Wahab, Faizul Suhif, Sabihis Pandi, Zul Husni Mohd. Ridhuan, Arsong Ong and Hazul Bakar.

“Kita hendak menggalakkan seniman untuk menghasilkan karya cetak. Kita juga mahu orang ramai memahami tentang teknik, proses dan sistem dalam penghasilan karya seni cetak …” nota wawancara bersama Cetak Kolektif ; 3 Dis 2014

“We would like to encourage artists to produce print works. We also want the public to understand better the techniques, processes and systems involved in the creation of print works.” (Interview with Cetak Kolektif; 3 Dec 2014)

Menurut Cetak Kolektif antara cabaran utama seniman untuk tetap menghasilkan karya seni cetak bukan hanya pada tahap harus disiplin kerja yang tinggi tetapi juga memerlukan peralatan dan kemudahan khas. Oleh kerana itu, tidak ramai seniman mempunyai peluang untuk menghasilkan karya seni cetak.  Dari kesulitan yang dirasa bersama ini, lahirlah keinginan untuk membentuk sebuah kolektif cetak antaranya untuk menghadapi bersama cabaran sebagai seniman yang merasakan perlunya ruang kerja kreatif bersama (kolektif).

According to the members of Cetak Kolektif, among the biggest challenges facing artists in producing print works is that printmaking requires not only a high level of work discipline but also specialised tools and equipment. With that being the case, not many artists have the opportunity to produce print works. Realising the depth of this problem, these artists have come together to form a group of printmakers so that they can overcome the challenges collectively.

“…terdapat pelbagai cabaran dan permasalahan dalam proses penghasilan seni cetak, contohnya sistem ‘numbering’ dan ‘caption’ dalam sistem cetak itu saja sudah tidak sistem (Wawancara dengan Cetak Kolektif ; 3 Dis 2014)

“In the process of creating print works, an artist faces numerous challenges and problems, such as with regard to the seemingly chaotic system of numbering and titling the works. We feel that it is important to hold this exhibition as a means to introduce to the public the vision and mission of our collective.” (Interview with Cetak Kolektif; 3 Dec 2014)

Tidak seperti pameran-pameran yang biasa dilihat di galeri-galeri seni, Pameran TEST PRINT menekankan tentang proses dan bagaimana idea sesebuah karya itu dihasilkan. Menurut Cetak Kolektif, sekarang ini tidak ada sistem yang tetap dalam sesebuah karya sebelum ini, oleh kerana itu penting untuk mereka mengadakan pameran pertama kolektif ini dengan memberi pendedahan tentang pemasalahan dalam sistem cetak.

Unlike other exhibitions we normally see in art galleries nowadays, the Test Print exhibition mainly emphasises the idea and process behind the creation of a piece of artwork. According to Cetak Kolektif, there is no consistent system in the artworks produced thus far. Therefore, this debut exhibition by their collective is important as it will reveal diverse challenges and problems within the system of printmaking.  

“Ini adalah pameran pengenalan kami yang bertujuan untuk menerima dan melihat masalah-masalah (dalam sistem cetak) itu. Masalah-masalah seperti tidak seragam tadi contohnya, kita mahu menerima masalah-masalah itu untuk kita menstruktur kembali sistem seni cetak dan memperbaiki masalah itu di masa akan datang” (Wawancara dengan Cetak Kolektif ; 3 Dis 2014)

“The aim of our introductory exhibition is to explore and deal with typical problems available in the system of printmaking. We hope to be able to realise and come to terms with these problems, like the lack of standardisation, so that we can rectify them and then restructure the printmaking system in the future.” (Interview with Cetak Kolektif; 3 Dec 2014)

Objektif Cetak Kolektif tidak hanya menekankan teknik  cetak konvensional sebagai asas kerja kolektif mereka, ia juga bermatlamat untuk meningkatkan dan juga mempopularkan seni cetak kepada generasi muda dan juga untuk mendidik orang ramai mengenai seni cetak.

Cetak Kolektif strives not only to apply conventional techniques of printing in their art-making but also to make the medium popular again among young artists and educate the public about printmaking.

Perancangan jangka panjang Cetak Kolektif adalah untuk menjadi pusat rujukan khusus tentang seni cetak. Ini kerana bagi mereka pentingnya ada sistem sokongan bagi membangun perkembangan seni cetak di negara ini. Perancangan mereka adalah mengadakan bengkel-bengkel seni cetak dan pameran, dan beberapa peratus daripada hasil penjualan karya mereka akan dikongsikan kepada kolektif mereka sebagai kontribusi untuk kelangsungan initiatif ini.

In the long run, Cetak Kolektif aspires to be the key reference regarding the art of printmaking. They believe that support systems are needed in order for the practice of printmaking to flourish in this country. The collective has also planned to organise printmaking workshops and exhibitions. Furthermore, they have pledged to contribute a portion of the sales of their works back to their collective to fund their future activities and projects.

 

Aspirasi seni harus mempunyai konteks dan bukan hanya estetika teknikal. Artistic aspirations must be contextualised and must not focus merely on technical and aesthetical aspects.

 

Menurut saya, inisiatif seperti ini harus diberi sokongan, tetapi dalam pada masa yang sama juga harus mampu melihat lebih dalam bukan sekadar kelengkapan peralatan untuk menghasilkan karya cetak, kemahiran ataupun teknik penghasilan karya.

In my opinion, all of us should support this kind of initiative. At the same time, however, people involved in this initiative also need to go beyond the issues of tools, skills and techniques related to printmaking.

Jika visi Cetak Kolektif adalah untuk menjadi sebagai pusat rujukan seni cetak dan mempromosikan seni cetak ke publik, ia haruslah mampu membuka hubungan seni eksklusif yang sekarang ini mendominasi seni negara kepada “seni mesra publik” dengan meletakkan nilai-nilai konteks pada seni.

If Cetak Kolektif really wants to serve as the main reference point for printmaking practice and to promote this medium to the general public, they must firstly dispel the sense of exclusivity and the attitude of elitism currently prevalent in the country’s art scene. Instead, they must propagate “public-friendly art” by, among other things, incorporating contextual elements into their work.

Bukankah dengan hanya mempamerkan keindahan visual dan membincangkan tentang teknikal menghasilkan karya, itu akan menjadikan seni semakin eksklusif dan menjadikan seniman itu manja?

If we persistently talk about the visual beauty and technical splendour of an artwork, would it not make art more exclusive and artists more aloof?  

Ada beberapa persoalan yang buat saya penting untuk dipersoalkan untuk mengakar sifat kolektif bersama ini yang bertitik tolak dengan permasalahan bersama yang dihadapi oleh seniman yang menghasilkan seni cetak; sebagai contoh adakah seni cetak hanya boleh dihasilkan dengan peralatan yang lengkap?  Bagaimana pula jika seniman itu tidak mempunyai peralatan yang lengkap untuk mencetak, apakah tidak ada cara lain untuk menghasilkannya dengan menggunakan cara teknik alternatif? Adakah karya-karya cetak itu harus dihasilkan dengan alat-alat yang lengkap, sistem yang teratur, kertas yang baik (contohnya) untuk diangkat sebagai karya seni yang baik?

There are several questions that I think should be of vital concern to all printmaking artists. For example, is it true that print works can only be produced using a complete set of tools? If an artist does not possess a complete set of tools, is there any other alternative techniques that he can utilise? For a print work to be regarded as a masterpiece, must it be created, for instance, with appropriate tools and types of paper and through a proper production system?  

Permasalahan utama buat saya bukan pada alat atau ruang, tapi pada diri seniman itu sendiri. Harus diletakkan garis tegas dimana, ada alat lengkap atau tidak ada alat lengkap, itu tergantung pada pilihan seniman. Untuk maju ke depan, kuncinya adalah konsistensi. Ia harus mampu tetap konsisten menghasilkan karya seni cetak dengan segala kekurangan yang dihadapi. Menjadi konsisten bukan sesuatu hal mudah kerana itu melibatkan prinsip diri yang tegas dan jelas.

For me, the real concern lies not with tools or working spaces but with artists themselves. We must make a clear stance here: an artist does not necessarily have to have a complete set of tools to create his art. In order to progress and move forward, the key thing to do is to be consistent in his artistic practice, even despite a lack of tools and other resources. Maintaining consistency is not an easy thing to do because it demands high levels of commitment and self-discipline.

Seniman (individu ataupun kolektif) bukan sahaja perlu ada bakat yang besar tetapi juga kemampuan berfikir dan meletakkan konteks seni dalam berekspresi dan imaginasi yang dibangunkan melalui kajian khusus dan mendalami hubungan seni cetak dan masyarakat. Sesebuah kolektif juga harus mempunyai keberanian untuk berdiri sendiri  dan tidak terikat dengan lingkaran produksi seni eksklusif.

Artists (as individuals or a collective organisation) must not only possess immense talents but must also have the ability to think about and be cognisant of the contexts influencing his imagination and expression resulted from his in-depth studies of the relationships between printmaking and the society. In addition, an art collective must also be bold enough to stand on its own, and not be subservient to the cycles of production of exclusive art.   

Sebagai kolektif seni, haruslah  membudayakan perkongsian ilmu kerana ia mampu menghidupkan semula seni  dalam hal ini seni cetak ke masyarakat. Kajian tentang perkembangan seni cetak yang dihasilkan harus diberi akses dan dikongsikan ke publik yang lebih besar melalui penulisan dan presentasi.

As an art collective, they should promote the culture of knowledge sharing as this can help spark the revival of the art of printmaking within the society. The results of any researches done on the development of printmaking should be made available and accessible to the larger public through writings, exhibitions and talks.

Seniman yang memilih untuk membangun kolektif bukan hanya harus mandiri, dengan mampu mempromosi seni cetak di luar ruang seni mainstream contohnya dengan menghasilkan karya-karya seni cetak ke ruang-ruang awam dan membangun rangkaian antara seniman menerusi simbiosis kerja dan sebagainya. Ia juga harus mampu mengeksplorasi segala potensi seni cetak itu sendiri dengan menjadikan seni cetak sebahagian daripada masyarakat .

Artists who choose to move in a collective manner must strongly embrace the spirit of independence, in the sense that they must have the ability to push their printmaking practice beyond the boundaries of mainstream art. For instance, they should bring their works to public spaces, and develop symbiotic networks among themselves. Furthermore, they should also explore all the possibilities and potentials of printmaking by making the medium more endearing and meaningful to the society.

Adalah sangat penting bagi sesebuah kolektif mendapat pengakuan daripada publik dan penggiat seni untuk berdiri sebagai rujukan di masa akan datang, dengan aktif menjalankan program-program yang mengabdikan diri seniman dengan masyarakat menerusi program kreatif yang melibatkan komuniti.

It is immensely crucial for an art collective to first earn the respect from members of the public and the art community before it can serve as a significant reference point and become an influential entity in the future. This can be achieved by carrying out programmes and projects involving the participation of the community.

Seniman sama ada individu atau kolektif harus mampu menjangkaui perbincangan manis seperti teknik dan estetika karya dengan menutup sebelah mata perbincangan konteks seni. Masyarakat harus didedahkan bahawa seni bukan hanya sekadar penguasaan teknik, media, kemahiran, jual beli sesebuah karya, kraf atau untuk menarik industri pelancongan, tetapi ia harus seiring dengan perbincangan isu dan konteks negara ini. Nilai seni itu lahir saat kita mampu meletakkan nilai pentingnya masyarakat dan seni dan bukan hanya menghasilkan sekadar produk.

Artists (as individuals or a collective group) must not limit the scope of their discussion to matters related only to technique and aesthetics, at the expense of ignoring the surrounding contexts. Society has to be made aware that art is not only about displaying individual skills and talents, selling and purchasing works, even promoting craft and tourism industries. They have to realise that art can also serve as a form of commentary on social issues happening in the country. Art is meaningful and significant only when it is able to play a profound social role and not merely considered a creative product of human activity and imagination.