Review: Festival “Kampungku Uripku”

Semalam Aku dan Gangchaos pergi mengikuti Festival “Kampungku Uripku” yang diadakan di Kampung Ledok Tukangan Jogjakarta. Aku secara peribadinya jauh lebih tertarik untuk melihat sendiri festival atau acara-acara kesenian yang diluar konteks galeri walaupun di Jogja ini , terlalu banyak aktiviti, pameran dan program kesenian yang diadakan selama kami di sini.

Festival “Kampungku Uripku” (urip bermaksud Hidup) telah di anjurkan oleh  Sanggar Anak Kampung Indonesia (SAKI) yang adakan di Kampung Ledok Tukangan, sebuah kampung yang terletak di tengah bandar (kota).  Acara ini adalah acara yang kedua, yang mana dahulu pernah di adakan pada tahun 2013. Acara ini di adakan dari 12-13 September 2015 . Pelbagai acara dan program yang direncanakan selama berlangsungnya festival kampung ini antaranya Pameran Foto, pelancaran bersama karya – karya orang kampung , pameran bersama dengan 2 komunitas kampung, pasar kampung, dialog dan diskusi dengan pemerintah dan komunitas-komunitas, workshop AIR, pertunjukan / gelar seni budaya dan pemutaran film.

Saat berada disana, kita dapat melihat bagaimana keterlibatan masyarakat setempat melibatkan diri bukan hanya sebagai penonton festival tetapi persiapan festival.  Kelihatan mural dan karya stencil di laluan masuk dan dinding kampung dari seniman juga karya bersama anak-anak kampung dengan pesan-pesan yang mengangkat isu-isu mereka.

Festival ini bukanlah semata-mata festival suka-suka dibuat. Bukan sekadar bincang-bincang isu-isu semata-mata juga. Menarik untuk kita mengetahui di sebalik tema “kampungku Uripku” .Festival “kampungku uripku” mengangkat tema bersama tentang kondisi kehidupan disana oleh penduduk kampung bagi menuntut kesejahteraan hidup mereka. Pembangunan besar-besaran seperti hotel-hotel, dan mall-mall, apartment yang dibangun membabi buta yang tidak memperindah juga mengetepikan kearifan lokal tiap wilayah. Dengan kesedaran bersama yang mana wilayah mereka adalah urban kota yang semakin terancam dan dihilangkan atas pembangunan moden dan rencana-rencana investor besar ini, mereka mengunakan seni dan budaya sebagai medium suara; bagi menyampaikan pesan-pesan kepada pemerintah untuk tidak hanya mementingkan pembangunan dan keuntungan pemodal yang akan mengancam kesejahteraan hidup mereka. Selain itu, di Kampung Ledok Tukangan sekarang ini penghuni  atau penduduknya lebih di dominan orang’ pendatang atau bukan orang asal kampung itu, oleh sebab itu lahir impak dengan persoalan-persoalan yang beraneka ragam. Atas kesadaran bersama ini, ia dilihat sebagai protes dan penyataan bersama oleh penduduk setempat demi menyuarakan hak mereka untuk menjamin kesejahteraan hidup mereka terjaga dan tidak dipinggirkan pemerintah.

Dibawah adalah sinopsis ringkas dari festival Kampungku Uripku

kampungku uripku menjadi satu pernyataan keras buat menyampaikan pesan, tentunya kepada pemerintah / negara bahwa kami juga perlu mendapatkan hak sebagai warga negara yang harus di perhatikan.baik dalam aspek ekonomi,pendidikan dan kesejahteraan ! kami sadar perkembangan industri besar di jogyakarta baru- baru ini sangat gencar dan cepat sekali,dimana kota yogyakarta sebagai kota budaya dan kota pelajar, mulai sedikit hampir habis oleh rencana-rencana investor-investor untuk membangun ekonomi mereka secara besar-besaran.dimana-mana di bangun gedung bertingkat menjulang,banyak sekali hotel, apartemen,mall,plasa yang di bangun dengan sengaja tanpa mengindahkan atau memperhatikan kearifan lokal tiap wilayah.kami sadar kami akan terancam pembangunan-pembangunan besar – besaran tersebut, kami sadar kami beberapa tahun kedepan atau malah sudah akan mulai di gerakan oleh elit negara. bahwa kami harus pergi dari tanah kelahiran tumpah darah kami.kami juga sangat sadar sekali kami akan berhadapan dengan para pemilik modal besar, dimana propaganda dan pelebaran membangun ekonomi mereka akan pasti ke tempat atau wilayah kami.masyarakat kami di buat tidak nyaman atau bosan dengan di munculkan konflik-konflik adu domba antara masyarakat sendiri.dimana kebosanan itu akan berdampak masyarakat pindah dan mencari tempat yang nyaman, tentu pilihannya adalah desa dan pinggiran-pinggiran kota.karena memang kampung kami sudah sumpek dengan hunian,sumpek dengan masalah-masalah ekonomi dan sumpek dengan trik-trik konflik adu domba. 

Harus saya akui, pengamatan aku dalam konteks festival kampungku Uripku ini masih surface dan memerlukan pemahaman yang lebih dalam untuk mengulas konteks masyarakat dan isu mereka yang lebih kompleks. Pengamatan akan jauh mendalam kalau ada peluang terlibat secara langsung sebelum persiapan festival, kerana secara langsung boleh belajar, memahami dan terlibat langsung proses kerjasama antara penganjur, seniman yang terlibat juga penduduk setempat. Tapi dari pengamatan aku, aku yakin…hubungan bersama masyarakat pasti di bangun bukan dalam masa yang singkat dan bukan proses yang mudah. Ini kerana aura positif dan kebersamaan dapat dirasa sewaktu disana walaupun, semalam adalah pertama kali aku dan anak-anak ke Kampung Ledok Tukangan. Kemesraan bersama itu dapat dirasakan dan tidak dapat membezakan apa mereka penganjur atau penduduk setempat atau audiance yang hadir… kerana semua tahu mengambil peran, semua ramah dan juga kita dapat merasa bahagian dari keluarga besar dan bersaudara.

Anak-anak dan warga kampung yang ikut menonton malam persembahan festival "kampungku Uripku"

Anak-anak dan warga kampung yang ikut menonton malam persembahan festival “kampungku Uripku”

Buat aku  seni di luar konteks galeri jauh lebih hidup, kerana ia  melibatkan penduduk kampung yang mengangkat konteks dan isu mereka yang lebih “real”. Real bermaksud disini, ia mengangkat isu bersama masyarakat setempat itu, dan juga permasalahan mereka bukan hanya boleh melihat dari sudut isu setempat  tetapi hubungannya dengan isu nasional atau bersama dalam skop yang lebih luas. Dan bertambah menarik lagi, isu mereka bukan sekadar format-format perbincangan dan diskusi sahaja tetapi mengunakan seni sebagai medium bagi mengangkat isu mereka dengan lebih kreatif dan mudah difahami. Ini lebih mengajak keterlibatan masyarakat secara langsung dalam melihat permasalahan bersama, mencari dan membangun solusi bersama. Aktiviti seperti ini bukan hanya membangun penduduk setempat untuk lebih prihatin tentang persekitaran mereka malah membangun budaya pro-aktif dan membangun bersama. Mungkin ini bukan hal baru dalam masyarakat di Jogja/ Indonesia, tapi bagi aku aura kebersamaan, ramah dan sederhana ini dapat dikongsikan bersama walaupun aku cuma hadir sebagai pengamat dari luar.  Hal kebersamaan ini sejujurnya  jarang dapat aku rasa dalam program kesenian di Malaysia, juga dalam komuniti setempat.

sebuah tarian yang menceritakan tentang sungai sebagai bahagian dari hidup yang mana dulunya masih bersih dan digunakan untuk kegunaan seharian2.

sebuah tarian yang menceritakan tentang sungai sebagai bahagian dari hidup yang mana dulunya masih bersih dan digunakan untuk kegunaan seharian2.

Buat aku, membangun kesedaran masyarakat adalah satu proses yang berlanjutan dan program dan festival seperti ini perlu diperbanyakkan di Malaysia. Sudah masanya membangun lebih banyak kerjasama kolektif, aktivis dan seniman dalam membentuk pendidikan ke masyarakat secara langsung yang mengangkat isu-isu bersama di kampung atau tempat dimana kita tinggal. Pendidikan kesedaran bersama ini juga tidak seharusnya bertumpu di bandar, tetapi masuk ke sub-urban dan kampung-kampung, live-in bersama dan memahami permasalahan dan cabaran isu setempat dan tidak hanya tertumpu pada permasalahan nasional.

Processed with VSCOcam with a6 preset

Festival seperti ini contohnya boleh dijadikan platform atau ruang untuk masyarakat terlibat, membangun bekerjasama dengan aktivis dan seniman, supaya lebih aktif dan pro-aktif dalam melihat permasalahan isu setempat  dengan menawarkan bentuk-bentuk aktivisima kreatif yang lebih berwarna dan menarik dalam mendidik masyarakat menuntut hak bersuara dan membangun masyarakat lebih demokratik.

 Dengan keterlibatan aktivis dan seniman secara langsung dengan penduduk setempat contohnya ia mengeluarkan seniman dan aktivis itu sendiri dalam “ruang selesa aktivisma” dan langsung turun padang untuk memahami dan melihat sendiri permasalahan dalam konteks bersama.Setiap masalah yang dihadapi memiliki solusi. Kita harus belajar melihat solusi bukan masalah. Kerana jika kemampuan kita hanya melihat masalah, warna yang terlihat cuma kelabu … buat saya, solusi yang mewarnakan setiap pilihan dan jalan menuntut perubahan bersama.