BERTANI SEBAGAI IDEOLOGI: AGROEKOLOGI DAN SISTEM PANGAN ORGANIK YANG MANDIRI.

Seputar Biodiverseni, Desa Pejeng, Bali

“Bangunlah pangan mu dari apa yang ada di kebunmu” –Ibu Nissa Wargadipura

kredit foto: FX Making

kredit foto: FX Making

 Kehadiran Ibu Nissa dan Ibu Tini di Kebun Setaman Pejeng (KSP), Banjar Panglan, Pejeng, Bali sangat memberikan semangat positif dan keyakinan buat meneruskan usaha sama-sama kearah pertanian organik yang mampan dan mandiri. Apa lagi di desa pejeng ini adalah sebuah desa yang tanahnya masih digunakan untuk pertanian, perbincangan dengan Ibu Nisa sangat memberikan info yang berguna buat teman-teman disini, untuk membangun desa. Bertemu dengan seseorang yang mempunyai passion yang sama dengan pengalamannya yang cukup banyak, pastilah hal yang sangat berarti buat kami. Kedatangan nya ke KSP kebetulan sama dengan acara #biodiverseni yang sedang di adakan di Pejeng.

Ekologi adalah rumah kita. Banyak yang datang dan pergi dari rumah, jadi harus ada yang menjaga agar tidak rusak. Kalau bukan kita, siapa lagi

Ibu Nissa Wargadipura

12183864_10153228196722883_107334800425525855_o

Perbincangan santai Ibu Nissa bersama #gengketan di Kebun setaman pejeng

Perbincangan bersama yang di adakan di KSP dan diskusi forum tentang agroekologi dan sistem pangan organik yang mandiri sempena Biodiverseni, buat aku cukup menarik untuk di kongsikan bersama. Ibu Nissa, penggagas Pasentran Ekologi At-Thariq di Garut, sebuah pesantren yang disifatkan nasionalist tetapi berdaulat, yang bermaksud tidak bergantung pada sesiapapun tetapi hidup pada kebun yang di kelola.

(baca : berbagi pengalaman tentang pertanian organik)

Latarbelakang Perjuangan Agraria Ibu Nissa Wargadipura

Sebelum mendirikan Pesantren Ath-Thariq, Ibu Nissa dan suaminya sudah cukup lama bergerak dalam advokasi aktivisma argaria sebelum zaman Reformasi. Selepas kejatuhan rezim Suharto lepas tahun 1998, muncul konflik argaria di Pulau Jawa, impak dari krisis ekonomi yang kemudiannya memunculkan isu konflik agraria yang sebenarnya sudah lama ada. Ibu Nissa yang pada saat itu bersama Pemuda Pelajar Mahasiswa Garut telah mendirikan Serikat Petani Pesundan, yang mana mereka telah live-in bersama petani-petani di desa-desa dan mengorganise petani-petani yang menjadi Serikat Petani Pesundan.

 Setelah 18 tahun bergerak dalam kehidupan para petani di daerah sarat konflik agrarian, muncul kegelisahan yang dilihat lahir dari pemerhatian dan kajian dalam terhadap kehidupan petani, yang mana banyak perlepasan tanah petani terjadi. Hal ini membawa impak buruk dalam jangka masa panjang kerana wang pampasan yang di terima hanya sementara sifatnya dan dalam jangka masa panjang muncul permasalahan hutang dengan tuan tanah yang menyebabkan petani tidak mandiri dan kehilangan tanah mereka.

Monokultur sistem yang perlahan membunuh petani

             Sistem pertanian monokultur menyebabkan petani terikat dengan hutang kerana memerlukan biaya yang tinggi untuk mengelola tanah contohnya satu keluarga petani harus membuat pinjaman 50 juta wang pinjaman kepada kapital hanya untuk mengelola tanah yang seluas 5000 meter persegi. Selain dari itu lahir juga ketergantungan terhadap pupuk-pupuk (baja), herbisida dan pesticide, membeli benih-benih hingga mengeluarkan kos biaya tenaga untuk mengelola tanah. Sistem pertanian monokultur ini menyebabkan hasil panen di panen serentak yang menyebabkan harga hasil panen jatuh. Yang lebih sadis lagi, hasil panen itu dijual kembali ke pemodal dengan harga rendah dan hasil jualan panen tidak mampu menutup hutang mereka. Muncul lah masalah hutang yang menjerat mereka sehingga terpaksa menjual harta-harta untuk membayar semula hutang-hutang. Selain penjualan harta, ada juga kasus petani mengahwini anak gadis yang masih bawah umur untuk meringankan tanggungan keluarga.

Petani akhirnya menjadi buruh tani untuk mengelola tanah. Permasalahan pelepasan tanah ini bukan hanya tentang wang pampasan tetapi lahirnya tanggapan dikalangan petani yang mana tanah dilepaskan kerana hasil bumi tidak menguntungkan. Petani hanya bertani untuk memenuhi permintaan pasar dan akhirnya mereka juga masih menjadi konsumer dalam memenuhi keperluan harian mereka. Semua bahan pangan yang sebetulnya boleh di tanam sendiri untuk konsumsi keluarga tetap harus dibeli. Kerana petani-petani ini harus tetap membeli untuk keberlangsungan hidup ini menambah berat. Bertolak pada permasalahan itu, banyak tanah-tanah di jual untuk pembangunan yang merugikan petani itu sendiri kerana mereka tidak mendapat hasil apa-apa dan akhirnya menjadi penonton sahaja.

Atas kegelisan dan kesedaran ini juga beliau bersama suami membangun Pasentran yang menawarkan pendidikan alternatif untuk mencetak kader baru petani muda yang mengangkat tanaman pangan lokal yang bebas bahan kimia, pestisida, dan herbisida. Pesantren yang dibentuk berbeza dengan pesantren-pesantren yang ada di Indonesia, dimana Pesantren Ath-Thariq dibentuk sebagai sebuah tempat perlawanan yang mana menurut Ibu Nissa, kita sekarang dijajah oleh musuh-musuh yang tidak kelihatan dengan mata kasar iaitu Neo-kolonialism yang mengekangkan kehidupan kita. Pesantren nya adalah sebuah tempat pelawanan terhadap ketidakmandirian bangsa dan sebuah ruang yang menolak keras penanaman yang menggunakan kimia.

Benih-Benih organik dari Pesantren Ath-Thariq, Garut. "peduli bumi, Peduli Sesama, peduli Masa depan"

Benih-Benih organik dari Pesantren Ath-Thariq, Garut.
“peduli bumi, Peduli Sesama, peduli Masa depan”

Racun Revolusi Hijau

            Menurutnya selepas revolusi hijau muncul penyakit-penyakit seperti cancer, tumor, autism, down syndrome dan sebagainya. Selain dari masalah dari sistem pertanian monokultur ada juga kesalahan dari cara mengkonsumsi makanan, contohnya; petani-petani membeli keperluan makanan dari petani yang menggunakan pestisida dan yang menggunakan pupuk/baja kimia yang akhirnya membawa impak buruk pada kesihatan. Saat diskusi ada pandangan dari warga Bali, yang berkongsi pengalamannya dalam kasus-kasus keguguran bayi banyak berlaku di desa-desa di Bali tapi selalunya teridentifikasi sebagai masalah lain dan terlepas dari kontek permasalahan pesticide. Fakta bahawa pesticide membawa impak buruk ke kesihatan itu ada di persekitaran. Berangkat dai permasalahan ini juga Ibu Nissa dan keluarga memutuskan untuk 100% berkebun secara organik dan hanya mengkonsumsi makanan dari hasil kebun yang di kelola.

Keluarga Yang Sihat, Penuh Kasih dan Cinta

            Berkebun harus di urus dengan serius, dan bagi mereka di Pasentren Ath-thariq, bertani adalah Ideologi yang menemukan konsep Spiritual dan pertanian yang dipadukan sebagai sebuah keyakinan dan ideology yang disebut EKOLOGI. Konsep ini dibangun berbasiskan pada ekosistem

Hasil kebun dari Pesantren Ekologi Ath-Thariq yang di keringkan; Bunga telang, ganyong, secang dan ruku-ruku.

Hasil kebun dari Pesantren Ekologi Ath-Thariq yang di keringkan; Bunga telang, ganyong, secang dan ruku-ruku.

“apabila berkebun contohnya apabila ularnya di bunuh itu terjadi pembunuhan sesame mahluk. Kalau membunuh seranggga kita telah membunuh satu mahluk yang diberi kesempatan hidup oleh Tuhan kita” Ibu Nissa Wargadipura

Adalah penting memahami setiap hidupan yang diciptakan Tuhan itu ada fungsinya. Contohnya ular akan mengimbangi ekosistem saat munculnya tikus, dan dalam ilmu perkebunan dan mengelola kebun adalah sangat penting untuk menjaga keseimbangan alam dan yang akhirnya mempunyai habitat-habitat alami yang semula jadi di satukan dalam sebuah kebun. Apa yang menarik tentang cara penanaman yang di jalankan di Pesantren Ath-Thariq adalah menggangkat kembali tanaman-tanaman kampong dan lokal yang menurutnya banyak manfaat dan semakin hilang. Mereka lebih mengutamakan tanaman lokal , tanaman yang dimakan oleh orang-orang kampong dan tidak tergantung pada tanaman popular. Dengan menanam tanaman-tanaman ini juga menambah pengetahuan

“Pertanian berbasis keluarga adalah jawapan untuk masa depan.” Ibu Nissa Wargadipura

Adalah sangat penting bagi kita untuk membangun bersama dan memperkasa petani untuk tetap bertani dan sama-sama membangun sebuah sistem pangan yang mandiri dan bersama. Bertani dan berkebun haruslah konsistan yang akhirnya akan menjadi kesatuan and mempertemukan karakter-karakter kebun. Kebun Setaman Pejeng, contohnya boleh menjadi ruang pembelajaran atau learning center untuk penanaman organik dan tanaman lokal yang ada di persekitaran desa pejeng.