Balasan surat buat teman, Isham a.k.a Atuk Isham

image

Teman,
kau yang  sering bertopi pada siang dan malam hari…
berkemeja kadang bercorak bunga, dengan blazer, seluar bermuda dan bersepatu kegemaranmu itu…
dari gaya saja sudah luar biasa,
kalau pun jarak umur kita beda tapi pikiran kamu tetap berdarah muda.

teman…
akan aku ingat kata-kata kamu
dalam satu penulisan kamu…
“gila itu ada 999 macam”
saat itu aku masih muda,
masih mencari-cari,
masih tertanya-tanya…
apa itu seni?
apa itu radikal?
apa itu kritikal?
apa itu hak asasi?
apa itu kebebasan ekspresi?
apa itu keadilan?
apa itu penguasa?
apa itu kuasa rakyat?
buat aku hanya dengan kegilaan mampu melakukan perubahan…
dan dalam setiap kegilaan
ada  keberanian…
keberanian tanpa lelah dalam perjuangan kamu…
walau  pandangan kita kadang beda tapi dalam perbedaan kita saling menghormati.

berteman dengan kamu, mengajar aku bertanya dan tidak ikut saja,
… dan dari bertanya, aku belajar untuk tidak manja, tidak menunggu dan  tidak menurut saja…
kamu sering mengingatkan untuk menjaga kesihatan fikrah dengan mencari ilmu, mengambil tahu, ambil peduli dan berfikir… dan membuktikan dengan aksi.

teman…
kalau kau tanya apa sudah aku jumpa jawapan pada persoalan2 aku?
belum lagi… dan aku tidak peduli… kerana pengalaman hidup lebih bererti dari mendapat jawapan yang subjektif dalam hidup ini.
sama mungkin bagaimana undang2 tidak pernah adil pada orang-orang  macam kita…
pada mereka, mempersoal kerajaan  itu seolah durhaka dan berdosa
layak hukum dan dipenjara…
dibungkam orang2 yang lantang mempersoal mereka…
padahal mempersoal pada ketidakadilan itu adalah wajar dan seharusnya,
supaya fikrah kita berguna, tidak bodoh dan ikut saja…

Teman…
jika kau akhirnya dikurung mereka,
mungkin sedih kita cuma sementara…
yang kekal adalah keberanian kamu,
semangat kamu,
pesan-pesan kamu,
dalam diri kita, yang sudah menganggap kamu keluarga…
semangat kamu tidak mampu mereka bungkam
kerana membangkitkan kesedaran banyak orang tentang kezaliman dalam bentuk apapun harus dilawan.

Teman…
setiap benih yang disemai pada tanah yang kering, adalah sebuah harapan yang diring doa…
Dan kamu, seperti petani yang menyebar benih untuk lawan ketidakadilan…
benih harus dirawat…
dengan aksi yang berterusan
dari teman-teman…
semoga benih itu akan tumbuh…
walaupun ditanam gelap …
pada tanah air yang semakin gersang
dalam satu sistem yang meracun
fikrah dan semangat jiwa…
aku percaya sesuatu yang baik
akan mengakar untuk kebaikan bersama,
Dan semangat setiakawan selalu ada
untuk kamu yang sudah menjadi keluarga kita.

ili | 10 May, Pejeng. Bali

image